|
Pemanasan Global menjadi isu yang semakin mendesak untuk ditangani. Dampaknya terasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perubahan iklim yang drastis akibat pemanasan global telah menyebabkan berbagai konsekuensi serius di berbagai sektor kehidupan, termasuk lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kondisi pemanasan global ini sungguh menghawatirkan. Tanda-tandanya pun mulai terasa, seperti iklim yang mulai menghangat. Pada tahun 2022, suhu permukaan bumi naik 0.98 derajat Celcius dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980. Bumi tengah masuk kedalam masa krisis. Wajar jika isu lingkungan semakin gencar disuarakan karena jika kerusakan lingkungan terjadi secara terus menerus maka bumi beserta isinya akan menderita. Salah satu tanda rusaknya alam adalah tingginya kadar karbondioksida yang berada diudara yang dihasilkan oleh proses industri dan konstruksi. Padahal gas CO2 merupakan gas yang menghalangi pelepasan panas matahari dari bumi. Kondisi seperti ini disebut dengan efek rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global. Sejak terjadinya revolusi industri, kadar CO2 semakin meningkat tajam dan terus naik. Hal ini memicu bumi semakin krisis kondisinya. Konsentrasi gas-gas tersebut semakin lama semakin meningkat tajam dan terkurung dalam atmosfer bumi sehingga energi tersebut berubah menjadi energi panas. Kondisi ini juga menyebabkan meningkatnya jumlah dan kekuatan badai yang terjadi di bumi. Pemanasan global juga menyebabkan semakin banyak area es yang melelah di kutub, sehingga meningkatkan ketinggian permukaan air laut. Dapat dibayangkan jika air laut semakin meningkat maka keberadaan pulau-pulau dan kota dapat terancam tenggelam. Dampak pemanasan global yang paling besar dan berpengaruh dalam kehidupan manusia di bumi adalah perubahan pola iklim yang mengganggu kegiatan pertanian serta memicu penyebaran wabah penyakit ke wilayah-wilayah baru. Kenyataan yang sangat ironis yakni pembangunan yang selayaknya digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia justru menjadi penyebab kerusakan alam terbesar. Secara global, kegiatan konstruksi mengkonsumsi sebanyak 50% sumber daya alam, 40% energi, dan 16% air. Aktivitas konstruksi juga akan menyumbangkan emisi CO2 terbanyak yakni 45%. Jadi saatnya kita arif terhadap bumi ini, agar tidak semakin terpuruk dalam krisis. Saat ini, berbagai negara di dunia termasuk Indonesia terus berupaya untuk mengurangi emisi karbon dan menjaga suhu bumi agar tidak meningkat dari 1,5 derajat celcius. Jika terjadi peningkatan lebih dari batas tersebut, maka akan menyebabkan kerusakan alam lebih cepat. United Nations telah menginisiasi gerakan net zero emission yang berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon. Apa Itu Emisi Karbon? Emisi adalah pelepasan dari zat sisa hasil pembakaran yang berupa gas. Sedangkan, karbon adalah zat arang yang memiliki unsur kimia pada suatu objek. Sehingga emisi karbon merupakan proses pelepasan gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung CO2, solar, LPG, dan bahan bakar lainnya ke lapisan atmosfer. Penyebab Emisi Karbon Emisi karbon disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kehidupan manusia. Contohnya, pembangkit tenaga listrik, penggunaan alat transportasi, penggunaan alat elektronik, hingga proses pembakaran makanan untuk dikonsumsi. Dampak Emisi Karbon 1. Terhadap Lingkungan Secara umum, emisi karbon menyebabkan peningkatan suhu bumi sehingga terjadi perubahan iklim seperti es di kutub mencair dan volume air laut meningkat. 2. Terhadap Kesehatan Peningkatan suhu dan perubahan iklim dapat menyebabkan virus penyakit baru bertumbuh. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi tubuh karena harus beradaptasi dengan virus baru tersebut dan berpotensi menjadi penyakit menular. 3. Terhadap Ekonomi Emisi karbon akan memberikan dampak pada kegiatan ekonomi manusia. Cuaca yang tak menentu akan mempengaruhi kondisi infrastruktur, pertanian, maupun lautan. Peningkatan suhu bumi menyebabkan bencana alam sehingga dapat mempengaruhi perekonomian. Sejalan dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Senarai Quantum Indonesia hadir untuk menjawab masalah tersebut. Senarai Quantum Indonesia menjadi jembatan penghubung antara pihak penyerap emisi karbon dengan pihak yang mengeluarkan emisi karbon. Senarai Quantum Indonesia turut serta ambil peran dalam bursa Karbon. Perlu diketahui bahwa potensi bisnis emisi karbon di Indonesia ini terbilang baru, namun demikian, potensi bisnis ini memiliki peluang yang sangat besar, mengingat luasnya lahan kehutanan yang masih ada di Indonesia, potensi bisnis ini juga memiliki potensi skala internasional, karena tidak hanya pabrik industri di Indonesia saja yang mengeluarkan emisi karbon, tetapi terutama pabrik-pabrik di negara-negara maju. Pemerintah dalam hal menindaklanjuti emisi karbon tersebut, telah membuka bursa karbon, dan mengharuskan pihak-pihak yang mengeluarkan emisi karbon untuk membayar kompensasi berupa membeli sertifikat emisi karbon. Menimbang pihak yang mengeluarkan emisi karbon, berarti ia telah melakukan kerusakan lingkungan. Dalam hal pelestarian lingkungan, maka ia diharuskan membayar kompensasi tersebut, apabila yang bersangkutan melanggar atau tidak mau membayar kompensasi, ia akan dikenai denda yang lebih besar daripada membayar kompensasi dengan cara membeli tersebut. Senarai Quantum Indonesia, saat ini sedang gencar mengajak masyarakat dan melakukan pelatihan bisnis emisi karbon ini. Karena bisnis ini terbilang baru, maka belum banyak tenaga ahli, maka potensinya sangat besar, mengingat peluang keuntungan yang sangat besar dan luas dalam potensi bisnis emisi karbon ini. Semoga Bermanfaat, Terimakasih M Sutan ArifGraphics Designer, Content Writer, Website Developer, Microsoft Expert, Windows Expert, Etc.
0 Comments
Leave a Reply. |
RSS Feed